“Saiki wes sugih brewu, dadi ora gelem karo dulure”

July 23, 2016
 (sekarang sudah kaya, jadi sombong dengan saudara)

Kalimat terakhir dari sekian banyak omelan orang yang kusebut tante.
Dia tidak menyebutkan langsung padaku, tapi kepada ibuku. Menyebut aku dan kakakku kini menjadi ponakan yang sombong. Jarang menjawab telepon darinya, jika telepon darinya tidak diangkat, kami tidak pernah menelpon atau sekedar sms menanyakan alasannya menelpon kami atau sekedar menanyakan kabar dia.

Dia benar, kami memang sombong. Beberapa kali aku tidak mengangkat telepon darinya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, kalau kuingat, masih minggu lalu dia menelepon cukup lama. Kalau sugih brewu, mungkin tepatnya berlaku untuk kakakku, aku sendiri masih berjuang meraih mimpi (yang entah apa dia tahu).

Aku tidak akan membela diri, memang aku sombong.
Aku tidak terbiasa menelepon balik dia, menanyakan kabar dia meski dia memang rajin menelepon aku. Mulai kapan dia rajin menelepon?

Aku mengenalnya saat usiaku 6 tahun, ketika itu aku tinggal di Surabaya, dia pun demikian. Aku mulai mempelajari silsilah keluarga papa ku. Suaminya adalah anak no 2 di keluarga itu dan papaku sendiri anak no 1. 
Papa meninggal ketika usiaku 7 tahun, sejak saat itu aku, mama dan kakak-ku meninggalkan Surabaya. Aku tak tahu lagi kabar dia. Demikian keluarga papa lainnya. 
Mereka tidak pernah repot-repot menanyakan kabar aku  dan kakakku. 
Apa kami sehat? Apa kami sekolah dengan baik? 
Setiap lebaran tidak pernah memberi angpau. Kau tahu kan, angpau sangat diharapkan oleh anak kecil, dan aku masih teringat siapa-siapa yang selama itu memberi angpau padaku. 
Apa mereka tahu kesulitan yang mama ku sempat alami hingga harus menjual rumah, menukarnya dengan ukuran yang lebih kecil agar uangnya cukup untuk kami bertahan hidup, hingga akhirnya kami tak punya rumah sama sekali dan harus mengontrak?
Apa mereka tahu, susahnya kakakku yang SMA nya jurusan IPS, terpaksa belajar materi IPA mati-matian ketika harus mengikuti ujian masuk sekolah keperawatan, karena seorang kerabat dari pihak mama berjanji akan membantu biaya sekolahnya?
Apa mereka pernah peduli, aku yang selalu memiliki nilai bagus di sekolah tapi tidak ada harapan untuk melanjutkan kuliah karena tak ada biaya? 
Mereka tak tahu, kalau bukan karena kerja keras mamaku, kakak-ku dan pertolongan tanpa pamrih dari kerabat mama (bahkan kerabat jauh yang tak ada hubungan keluarga pun), aku dan kakak-ku tak mungkin bisa hidup sehat, dan menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. 
Mereka tak tahu kan? Jangankan menolong ketika kami susah, menanyakan kabar saja tidak.

Semuanya berubah saat kini mereka tahu, kakak-ku telah menikah dengan seorang yang mapan.
Tak hanya dia yang rajin menelepon kami, adik-adik papa lain mulai rajin mengunjungi sambil membawa anak mereka. Mengatakan “jangan sampai tali silaturahmi putus” atau “ini biar anak-anak tahu saudaranya siapa”. Kami mencoba baik, menerima kunjungan mereka, menerima telepon mereka, dan kami membantu ketika seorang om meminta pinjaman duit yang sampai sekarang tak ada itikad untuk mengembailkan. Tapi masih saja dirasa kurang, ada om lain yang datang sambil menceramahi “kalau sudah enak jangan lupa saudaranya” dan kini dia (tante ku) marah-marah mengatakan kami sombong.

Bukankah seharusnya aku yang marah, selama ini ketika aku susah mereka lupa, dan kini menuntut aku untuk selalu ingat mereka. Entah ingat seperti apa maksudnya.
Aku akan mengakui selamanya mereka saudaraku, tapi jangan menuntut aku melakukan sesuatu yang tidak biasa, karena biasanya (sejak aku kecil) mereka tidak pernah menghubungi kami.

0 comments:

Post a Comment